Duh, capek nih….. ha
ri ini gw baru aja ngikutin acara gathering family yang di adakan oleh perusahaan bokap gw di daerah gunung geulis tepatnya di mana gw juga gak tau (yang pengen tau, googling sonoh…!). gathering kali ini ngambil tema Go Green yang bertujuan buat ngingetin kita klo skarang efek global warming dah kerasa banget. buktinya aja, walaupun acaranya di adain di atas gunung, tapi tetep berasa panas buanget coy….
tapi kali ini gw gak bakalan ngulas kejadian2 aneh yang ada disana, termasuk munculnya kaka “selang”. kali ini gw bakal ngulas tetang buku. yah, secara gunung, jadi disana banyak pohon-pohon yang memicu otak kanan gw mulai berintuisi tentang tulisan kali ini.
ada apa dengan buku? yah, secara, lw pada tau sendiri kan klo bahan dasar buku itu berasal dari kertas yang notabenenya di buat dari serat kayu yang di ambil dari pohon. lw tau sendiri, sekarang penyebab beberapa bencana alam di dunia ini disebabkan oleh pohon. misalnya banjir, bencana ini di sebabkan karena pohon di hutan pada di gundulin kayak kepalanya mang jaja (temenya sule itu loh…) ditambah bumbu pelengkapnya, ujan deres. dan juga bencana yang lagi nge-trend saat ini (udah kayak baju aja…) yaitu global warming.
nah, kan lw udah tau global warming banyak bikin kerugian buat kite. contohnya, suhu bumi naik yang menyebabkan kulit indah gw gosong akibat sentuhan manis dari sinar sang mentari. trus hubungannya ama buku apa? nah, secara buku kan di buat pake pohon, berarti pohonya harus di tebang trus di olah dan kemudian di proses jadi buku kan?! nah, pohon yang ditebang ini lah yang menjadi salah satu tersangka utama dari global warming.
menurut mang Steven Haryanto (seorang system analist & pemerhati sekuriti), buku adalah sebuah medium informasi yang nondigital yang memiki berbagai kekurangan, diantaranya tidak interaktif, tidak up-to-date, dan katanya udah gak cocok di jaman digital kayak gini.
coba pikir, ketika di jaman yang kata orang jaman digital yang taunya mencet tombol doang, distribusi buku fisik ini di ubah menjadi elektronik yang bakalan menutupi kekurangan dari buku tersebut. pertama, harga buku bisa turun sekitar 20-25 % karena tidak adanya biaya cetak. kedua, kita bisa menyelamatkan sekitar 20 juta pohon per tahun seandainya 3 milyaran buku tidak perlu lagi di cetak setiap tahunnya. ketiga, mengurangi beban dan space (yang gak tau artinya, silahkan bertanya kpd mbah google). yah, beberapa buku panduan lengkap kayak bahasa pemrograman C++ bisa sampe 3-4 kg. kolektor buku pun harus menyediakan tempat khusus untuk buku-buku kesayangan mereka. hal ini dapat di minimalisasi atau bahkan dapat di hilangkan dengan meruabh buku menjadi e-Book.
lagian, rata-rata dari kita saat ini saja sudah tidak mempunyai waktu untuk membaca lebih dari 1 buku per minggu atau bahakan per bulan. ke depannya, kita tidak tau kesibukan apa lagi yang bakal kita hadapi sementara waktu tetap 24 jam sehari. nah, dengan ini orang hanya akan membaca ringkasannya saja. banyak buku bisnis atau psikologi praktis, yang sebetulnya initnya hanya 1-10 halaman yang kemudian di melarkan menjadi 250-500 halaman. jadi, kedepannya mungkin orang-orang hanya buth waktu 5 – 30 menit untuk membaca sebuah halaman website yang berisi ringkasan buku.
e-Book memberi beberapa kelebihan seperti dapat di search, di salin gratis (hohoho, gw banget…) dan di simpan tanpa makan tempat dan makan usia. di masa depan, di mana akan banyak perubahan di dunia maya ini, e-Book harusnya dapat di buat lebih interaktif. misalnya, kita dapat mengirimkan komentar atau pertanyaan tentang buku ke penulis dengan cara yang sering di gunakan di jaman ini, yaitu tinggal klik aja.
nah, yang sekarang menjadi bahan pikiran adalah kapan hal ini bisa terwujud. yah, kayak kata pepatah,” perubahan tidak semudah mebalikkan telapak tangan”. akan ada pro dan kontra soal hal ini, terutama bagi industri besar buku, percetakan, dan penerbitan. mereka butuh waktu lama untuk berubah. akses ke komputer terutama bagi anak-anak dan kalangan bawah pun masih belum merata. tapi semua ini hanyalah masalah waktu aja. (By:Steven Haryanto, PC MEDIA edisi 06/2008. edited by : mad)
so, sekarang apa yang lw pikirin tentang hal ini? it’s Book? or e-Book?
to be continued… Read the rest of this entry »